Kamis, 13 Oktober 2011

BISINDO

Bahasa isyarat adalah bahasa yang umum dipakai oleh penyandang tunarungu ketika berkomunikasi dengan sesamanya. Penyandang tunarungu cenderung terbiasa memakai bahasa isyarat. Manusia mempunyai akal untuk bisa berkomunikasi atau menyampaikan gagasan atau ide dengan cara apapun. Ada banyak cara untuk berkomunikasi, misalnya dengan cara membaca bibir, menulis, memberi aba-aba, dan memberi isyarat. Bahasa isyarat adalah salah satunya, bahasa ini muncul dengan alami. Dengan kata lain bahasa isyarat adalah adaptasi dari bahasa oral yang tidak bisa mereka lakukan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa isyarat artinya bahasa yang tidak menggunakan bunyi ucapan manusia atau tulisan di sistem perlambangannya. Bahasa isyarat adalah bahasa yang menggunakan isyarat yaitu gerak tangan, kepala, badan dan sebagainya, yang khusus diciptakan oleh kaum tunarungu dan untuk kaum tunarungu (kadang untuk kaum pendengar).
Di setiap daerah di Indonesia punya bahasa isyarat sendiri-sendiri, bahasa isyarat dari satu tempat ke tempat lain amatlah berbeda. Mereka kesulitan memahami bahasa isyarat yang berbeda. Oleh karena itu, muncul ide membuat bahasa isyarat Indonesia, yang disingkat BISINDO. BISINDO diharapkan dapat menjadi bahasa isyarat nasional sebagaimana sama halnya dengan bahasa Indonesia pada umumnya. BISINDO juga mempunyai tata bahasa sendiri.
BISINDO ini masih baru dan kurang dikenal masyarakat luas. Masyarakat sudah mengenal SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). SIBI adalah sistem hasil rekayasa dan ciptaan dari orang normal, bukan dari orang tunarungu. Walhasil kaum tunarungu kebingungan dan tidak habis pikir mengapa bahasa isyarat alami mereka berbeda dengan SIBI. Sampai sekarang masih terjadi kontroversi antara pencetus SIBI dengan kaum tunarungu. Kaum tunarungu memutuskan SIBI hanya untuk sekolah karena isyarat bukan produk asli kaum tunarungu Indonesia. Hal ini bisa dilihat banyak kaum tunarungu masih tetap memakai bahasa isyarat orisinil mereka.
BISINDO adalah sistem komunikasi yang praktis dan efektif untuk penyandang tunarungu Indonesia yang dikembangkan oleh tunarungu sendiri. BISINDO digunakan untuk berkomunikasi antar individu sebagaimana sama seperti halnya dengan bahasa Indonesia pada umumnya. Dengan BISINDO penyandang tunarungu dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan secara leluasa dan mengekspresikan dirinya sebagai insan manusia warga Negara Indonesia yang bermartabat sesuai dengan falsafah hidup dan HAM
BISINDO ini dikembangkan dan disebarluaskan melalui wadah organisasi GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). Pada saat ini pusat BISINDO sedang mengkaji penyusunan standar, penyusunan kamus BISINDO, dan buku mata pelajaran BISINDO.
Harapan kami kelak BISINDO dapat dipelajari oleh masyarakat umum, diajarkan di sekolah umum, perguruan tinggi, dan sebagai pengantar di Sekolah Luar Biasa.

BINA PERSEPSI BUNYI DAN IRAMA


Bina persepsi bunyi dan irama adalah suatu cara yang mengajarkan serta mengenal bunyi dan irama yang didengar oleh anak tunarungu. Bina Persepsi Bunyi dan Irama yang disingkat BPBI adalah suatu proses seseorang untuk mengetahui dan mengenal bunyi dan irama melalui panca indranya, yaitu melalui telinga. Proses yang diajarkan oleh anak tunarungu adalah:
  1. Mendeteksi ada atau tidaknya bunyi
  2. Membedakan mana suara yang tinggi atau suara yang rendah
  3. Menggerakan badan sesuai dengan iramanya
  4. Mengenal bunyi apa yang di dengarnya
Tujuan BPBI adalah:
  1. Mampu  merespon bunyi
  2. Mampu mengenal bunyi yang didengarnya
  3. Memungkinkan dapat menaikkan dB-nya
Manfaat adanya BPBI adalah:
  1. Emosi anak dapat berkembang
  2. Motoriknya akan berkembang sempurna
  3. Kemampuan adaptasi bunyi dapat berkembang
  4. Tidak tergantung semata-mata pada visualnya

Jumat, 18 Februari 2011

KEPERCAYAAN DIRI ANAK TUNARUNGU DAN ORANG TUA


Setiap remaja tunarungu pada umumnya mengharapkan agar keberadaannya dapat diterima dengan baik dalam lingkungan masyarakatnya. Remaja yang menderita tunarungu biasanya mengalami hambatan di dalam melakukan tugas perkembangannya, misalnya: berinteraksi dengan teman sebayanya, memainkan peran sosial dalam masyarakatnya, menerima keadaan fisiknya yang tidak sempurna dibanding orang yang normal, dan mempersiapkan perkawinan dengan lawan jenis dalam membentuk sebuah keluarga serta berusaha mencapai kemandirian emosional menjadi orang tua dan dewasa lainnya
Remaja yang tunarungu akan merasa sangat malu, berkecil hati, merasa tidak memiliki kepercayaan diri yang secara otomatis akan mempengaruhi pada keadaan psikologisnya. Karena kondisi tunarungu, kemungkinan akan mempunyai emosi yang labil, mudah tersinggung, mudah ada rasa takut untuk melakukan sesuatu karena ketunarunguannya yang lebih sensitif daripada sikap orang lain.
Dari hasil observasi, mereka mengalami hambatan perkembangan seperti di dalam hal pelajaran, mereka cenderung kurang baik dalam hal berprestasi, merasa tidak percaya diri dalam melakukan suatu hal, kurang berani tampil di depan umum, dalam sikap ada rasa kurang percaya diri, dan ada gangguan emosional terhadap suatu hal yang berkaitan dengan dirinya.
Keadaan tunarungu pada dirinya telah menumbuhkan rasa kurang percaya diri. Banyak orang cenderung merendahkan dan meremehkan keberadaan remaja tunarungu yang dianggap tidak berdaya dan tidak dapat mengerjakan sesuatu yang berarti, dan kaum tunarungu sering didiskriminasi. Semua hal ini memperkuat alasan mengapa anak tunarungu menjadi kurang percaya diri.
Dibalik dirinya terdapat banyak kelebihan dirinya yang tidak kalah dengan orang berpendengaran normal, terutama bagi remaja tunarungu. Kepercayaan diri akan mmbuat orang tersebut bertindak tegas, dan tidak ragu-ragu atau takut mengalami kegagalan. Selalu optimis dalam menghadapi segala sesuatu.
Jika mereka merasa dirinya diterima, maka akan muncul suatu perasaan yang nyaman dan aman untuk melakukan segala hal yang mereka inginkan. Kepercayaan diri merupakan paduan sikap dan keyakinan remaja dalam menghadapi suatu tugas dan pekerjaan.
Kepercayaan diri akan memperkuat motivasi mencapai keberhasilan karena semakin tinggi kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri, semakin pula kuat semangat untuk menyelesaikan pekerjaanya. Kepercayaan diri juga membawa kekuatan dalam menentukan langkah dan merupakan faktor utama dalam mengatasi suatu masalah.
Remaja tunarungu selalu merasa takut untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain karena mereka menganggap lingkungan tidak mau menerima keberadaannya. Hal itu sangat rentan bagi mereka. Kalau terus dibiarkan akan menjadi semakin parah, serta remaja tidak akan bisa berkembang maju ke depan.
Remaja tunarungu ini sangat membutuhkan banyak dukungan, bimbingan, dan bantuan dari orang yang ada di sekitarnya, terutama bagi orang tuanya.  Orang tua sangat berperan penting terhadap kondisi anak ini karena pihak ini yang paling mengerti dan paham bagaimana keadaan remaja ini. Meskipun begitu, kebanyakan orang tua sering kebingungan bagaimana mengatasi anak tunarungu ini. Bagi orang tua yang tunarungu, pasti akan paham kondisi anaknya yang tunarungu pula.
Yang paling berpengaruh untuk membentuk kepercayaan diri pada remaja adalah keluarga sendiri. Lingkungan keluarga mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pembentukan kepercayaan diri seseorang. Lingkungan keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan institusi terpenting dalam kehidupan anak remaja tersebut untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan, pengajaran, dukungan, dan kasih sayang. Situasi di dalam rumah akan berperan dalam membentuk kepercayaan diri seorang remaja tunarungu adalah hal penerimaan.
KELUARGA
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia di mana dia belajar dan menyatakan dirinya sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di mana interaksinya berdasarkan simpati, remaja belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bersama-sama, bantu-membantu, dll. Pengalaman-pengalaman ini turut menentukan pula cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial di luar keluarga dan di dalam masyarakat pada umumnya.
Apabila seorang memperoleh dukungan sosial yang berupa perhatian, kasih sayang, penghargaan, pertolongan, dsb, maka anak tersebut akan merasa ada yang mendukung. Perkembangan sosial dapat memberikan perasaaan bermakna bagi yang menerimanya dan akan mendorong anak tersebut mampu melakukan sesuatu.
Sikap yang tidak mendukung, membenci, dan tidak menerima dalam keadaan dari anak yang menderita tunarungu sebaiknya dihindarkan. Terlebih pada orang tua yang tidak dapat menerima keadaan anak yang tunarungu yang seringkali merasa malu untuk mengakui keberadaannya dengan cara menyembunyikan anak difabel dari dunia luar. Tingkat remaja merupakan suatu masa ketegangan khsusus anak tunarungu beserta orangtuanya. Fase ini sering terdapat adanya jurang pemisah antara anak tunarungu dengan kaum mendengar yang semakin melebar.

Dari berbagai sumber

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons